Sabtu, 05 Maret 2011

Hak atau Kewajiban Anak

Yang paling memusingkan orang tua zaman sekarang tampaknya adalah pendidikan. Kadang kala anak belum bisa berjalan orang tua sudah sibuk mencarikan "sekolah". Masuk usia kelompok bermain (batita) dan taman kanak-kanak (balita) sudah ada yang punya daftar kursus segudang. Memang sih ada yang namanya ‘golden age'...masa keemasan ...tapi seperti kata pepatah rasanya tidak ada kata terlambat untuk belajar (Buktinya orang tuanya juga tetap hebat walaupun dulu di TK belum belajar komputer). Yang patut dipikirkan apakah waktu bermain yang dikorbankan untuk les disana sini itu akan seimbang dengan hasilnya dikemudian hari? Atau malah terjadi kejenuhan dan pada saatnya dia perlu serius belajar sendiri, malah lebih senang bermain dan berhura-hura?
Orang tua bekerja membanting tulang, mencari uang untuk biaya pendidikan...dan melupakan bahwa pendidikan utama seorang anak adalah dari rumahnya sendiri! Waktu bermain yang dibutuhkan seorang anak di usia dininya tidak akan berulang kembali. Sebenarnya pendidikan itu adalah hak seorang anak agar nanti mampu berdikari di masa dewasanya, tapi sepertinya sama seperti slogan pemerintah "wajib belajar"...maka anak-anak akhirnya merasa bukan mendapatkan haknya, melainkan dibebankan dengan kewajiban belajar. Maka tidak heran kalau diminta menuliskan hak dan kewajibannya sebagai anak, maka mereka yang memiliki kemudahan akses bersekolah akan menulis haknya sebagai bermain PS atau game boy, sementara kewajibannya belajar. Bagi anak-anak yang kesulitan melanjutkan sekolah mungkin akan merasa bahwa haknya untuk belajar terampas, sementara kewajibannya menjadi bekerja membantu orang tua. Jadi apakah pendidikan (formal maupun non formal) adalah hak anak? Atau justru kewajiban anak? Orang tualah kunci jawabannya!

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys